π Pembahasan
Ada masa dalam hidup ketika seseorang merasa bahwa setiap doanya tidak diresponi sama sekali, ketika dipanjatkan berulang kali, namun tak kunjung mendapat jawaban. Hari demi hari berlalu dengan harapan yang perlahan memudar, digantikan oleh rasa lelah dan keraguan. Dalam diam, muncul pertanyaan-pertanyaan yang tak mudah dijawab, yaitu apakah aku kurang bersungguh-sungguh, atau doaku memang tak layak untuk dikabulkan?
Keputusasaan pun mulai menyelinap kedalam pikirannya sehingga membuat hati terasa berat dan langkah terasa tertatih. Di titik inilah, seseorang sering kali diuji, antara tetap percaya atau menyerah pada rasa putus asa yang kian menguat.
Salah satu tokoh Alkitab bernama Hana, ia adalah seorang perempuan yang hidup dalam kepedihan karena belum memiliki anak atau mandul. kemandulan sering dianggap sebagai aib atau tanda tidak diberkati, sehingga membuatnya merasa rendah dan terluka secara batin.
Sementara itu, suaminya, Elkana lebih berpihak kepada istri lain yang bernama Penina yang membuat Hana sanga iri dan selalu menangis. Selain itu, Penina juga sering menyakiti hati Hana dengan ejekan dan sindiran. Ia terus-menerus mengungkit keadaan Hana yang tidak bisa mengandung, hal ini membuat penderitaan itu semakin berat.
Karena beban itu, Hana sering menangis dan kehilangan selera makan. Bahkan seringkali memilih sendiri, dan selalu datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur untuk berdoa dengan sungguh-sungguh di bait Allah. Dari kesedihan yang mendalam itulah, lahir doa yang tulus dari hati seorang Hana.
Dalam doanya, Hana mencurahkan semua kesedihannya dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Walaupun saat itu belum ada jawaban, hatinya menjadi tenang dan tidak sedih lagi. Inilah kuasa doa, bukan langsung mengubah keadaan, tetapi mengubah hati kita terlebih dahulu.
Dalam 1 Samuel 1:11, Hana dengan kesungguhan hati berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk memberikan kepadanya seorang anak. Bahkan dalam permohonannya, anak yang akan diberikan oleh Allah kepadanya, dia akan kembalikan kepada Allah juga. Dari kesungguhan Hana, pada akhirnya Tuhan memberikannya seorang anak laki-laki dan dia menamai anak itu Samuel, sebab katanya “Aku telah memintanya dari pada Allah” (1 Samuel 1:20).
Dalam 1 Samuel 1:27-28, memberikan pengertian bahwa pada saat itu Hana menyadari bahwa apa yang dia doakan kepada Tuhan dan dari permohonannya itu Tuhan menjawab dan memberikan kepadanya Samuel. Karena itu Hana tidak ingin mengingkari janjinya kepada Allah, namun dengan sukacita dia mempersembahkan Samuel kepada Allah, sambil menyambah.
Dari kisah Hana dalam 1 Samuel, kita melihat bahwa kuasa doa itu nyata, tetapi tidak selalu langsung terlihat. Kuasa doa bukan hanya soal Tuhan langsung mengubah keadaan, tetapi terlebih dahulu mengubah hati kita, bermula dari yang sedih menjadi tenang, dari putus asa menjadi penuh harapan. Saat Hana berdoa, masalahnya belum langsung selesai, tetapi hatinya sudah dikuatkan.